Apa itu resiko?
Saya mendefinisikan resiko dengan sangat sederhana sebagai sebuah
tindakan yang menghadapkan Anda pada kemungkinan mengalami kerugian atau
kecelakaan. Jika Anda mengambil resiko, Anda bisa kehilangan uang, Anda bisa
kehilangan muka, Anda bisa kehilangan kesehatan atau bahkan hidup Anda. Dan
yang lebih buruk, jika Anda mengambil resiko, Anda mungkin membahayakan orang
lain dan bukan hanya diri Anda. Hidup mereka mungkin terancam. Jadi, akankah
seorang yang bijaksana dan penyayang mengambil resiko? Apakah bijaksana untuk
menghadapkan diri Anda kepada suatu kemalangan? Apakah membahayakan orang lain
dapat dikatakan mengasihi? Apakah kehilangan nyawa sama dengan
menyia-nyiakannya?
Tergantung. Tentu saja Anda bisa menyia-nyiakan hidup Anda dengan
seratus cara yang berdosa dan mati karenanya. Dalam kasus itu, kehilangan nyawa
akan sama artinya dengan menyia-yiakannya. Tetapi kehillangan nyawa tidak
selalu sama dengan menyia-nyiakannya.
Resiko terajut ke dalam
struktur kehidupan kita yang fana
Mengapa ada yang disebut resiko? Karena ada yang disebut dengan
ketidaktahuan. Seandainya tidak ada ketidaktahuan, tidak aka nada resiko.
Risiko itu mungkin karena kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di
kemudian hari. Ini berarti bahwa Allah tidak bisa mengambil resiko. Ia
mengetahui hasil dari semua pilihan-pilihan-Nya sebelum semuanya itu terjadi.
Inilah artinya menjadi Allah atas segala ilah bangsa-bangsa. Dan karena Ia
mengetahui hasil akhir dari semua tindakan-Nya sebelum semuanya itu terjadi, Ia
berencana sesuai dengan semuanya itu. Kemahatahuan-Nya menyingkirkan
kemungkinan apapun untuk mengambil risiko.
Tetapi tidak demikian dengan kita. Kita bukan Allah; kita tidak tahu.
Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Allah tidak memberitahukan
kepada kita secara mendetail apa yang ingin dilakukan-Nya besok atau lima tahun
dari sekarang. Jelaslah Allah ingin agar kita hidup dan bertindak dalam
ketidaktahuan dan dalam ketidakpastian tentang hasil akhir dari
tindakan-tindakan kita.
Anda tidak tahu seandainya jantung Anda akan berhenti sebelum Anda
selesai membaca halaman ini. Anda tidak tahu seandainya seorang pemudi yang
sedang mendekat akan melenceng keluar dari jalurnya dan langsung menabrak Anda
minggu depan, atau seandainya makanan di restoran mungkin mengandung semacam
virus yang mematikan di dalamnya, atau seandainya Anda akan terserang stroke
sehingga lumpuh sebelum minggu ini berakhir. Kita bukan Allah. Kita tidak
mengetahui hari esok.
Mengahancurkan mitos tentang
keamanan
Karena resiko terajut ke dalam struktur kehidupan kita yang fana, maka
kita tidak dapat menghindari risiko bahkan ketika kita ingin menghindarinya.
Ketidaktahuan dan ketidakpastian tentang hari esok adalah hakikat kita. Semua
rencana kita untuk kegiatan-kegiatan esok hari dapat dihancurkan oleh ribuan
hal yang tidak terduga entah ketika kita tinggal di rumah di bawah selimut atau
melintas di jalan raya. Salah satu sasaran saya adalah menghancurkan mitos
tentang keamanan dan dengan suatu cara menyelamatkan Anda dari pesona keamanan.
Karena itu adalah sebuah halusinasi. Hal
itu tidak ada. Kemana pun Anda berpaling, ada hal-hal yang tidak terduga dan
hal-hal yang di luar kendali Anda.
Kemunafikan yang tragis adalah bahwa pesona keamanan membuat kita
mengambil risiko setiap hari untuk diri kita, tetapi melumpuhkan kita untuk
mengambil resiko untuk orang lain di jalan kasih Kalvari. Kita tertipu dan
berpikir bahwa hal itu mungkin mengacaukan keamanan, yang sesungguhnya bahkan
tidak ada. Cara yang saya harap bisa menghancurkan mitos keamanan dan
membangunkan Anda dari halusinasi tentang keamanan semata-mata adalah berpaling
kepada Alkitab dan menunjukkan bahwa mengambil risiko untuk kepentingan Kristus
itu tepat, dan tidak melakukannya berarti menyia-nyiakan hidup Anda.
Referensi:
John Piper dalam Jangan menyia-nyiakan hidup Anda: terjemahan dari "Don't waste your life" oleh Pionir Jaya