Wednesday, October 28, 2015

Resiko dan Relasinya Terhadap Hidup

Apa itu resiko?

Saya mendefinisikan resiko dengan sangat sederhana sebagai sebuah tindakan yang menghadapkan Anda pada kemungkinan mengalami kerugian atau kecelakaan. Jika Anda mengambil resiko, Anda bisa kehilangan uang, Anda bisa kehilangan muka, Anda bisa kehilangan kesehatan atau bahkan hidup Anda. Dan yang lebih buruk, jika Anda mengambil resiko, Anda mungkin membahayakan orang lain dan bukan hanya diri Anda. Hidup mereka mungkin terancam. Jadi, akankah seorang yang bijaksana dan penyayang mengambil resiko? Apakah bijaksana untuk menghadapkan diri Anda kepada suatu kemalangan? Apakah membahayakan orang lain dapat dikatakan mengasihi? Apakah kehilangan nyawa sama dengan menyia-nyiakannya?
Tergantung. Tentu saja Anda bisa menyia-nyiakan hidup Anda dengan seratus cara yang berdosa dan mati karenanya. Dalam kasus itu, kehilangan nyawa akan sama artinya dengan menyia-yiakannya. Tetapi kehillangan nyawa tidak selalu sama dengan menyia-nyiakannya.

Resiko terajut ke dalam struktur kehidupan kita yang fana
Mengapa ada yang disebut resiko? Karena ada yang disebut dengan ketidaktahuan. Seandainya tidak ada ketidaktahuan, tidak aka nada resiko. Risiko itu mungkin karena kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di kemudian hari. Ini berarti bahwa Allah tidak bisa mengambil resiko. Ia mengetahui hasil dari semua pilihan-pilihan-Nya sebelum semuanya itu terjadi. Inilah artinya menjadi Allah atas segala ilah bangsa-bangsa. Dan karena Ia mengetahui hasil akhir dari semua tindakan-Nya sebelum semuanya itu terjadi, Ia berencana sesuai dengan semuanya itu. Kemahatahuan-Nya menyingkirkan kemungkinan apapun untuk mengambil risiko.
Tetapi tidak demikian dengan kita. Kita bukan Allah; kita tidak tahu. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Allah tidak memberitahukan kepada kita secara mendetail apa yang ingin dilakukan-Nya besok atau lima tahun dari sekarang. Jelaslah Allah ingin agar kita hidup dan bertindak dalam ketidaktahuan dan dalam ketidakpastian tentang hasil akhir dari tindakan-tindakan kita.
Anda tidak tahu seandainya jantung Anda akan berhenti sebelum Anda selesai membaca halaman ini. Anda tidak tahu seandainya seorang pemudi yang sedang mendekat akan melenceng keluar dari jalurnya dan langsung menabrak Anda minggu depan, atau seandainya makanan di restoran mungkin mengandung semacam virus yang mematikan di dalamnya, atau seandainya Anda akan terserang stroke sehingga lumpuh sebelum minggu ini berakhir. Kita bukan Allah. Kita tidak mengetahui hari esok.

Mengahancurkan mitos tentang keamanan
Karena resiko terajut ke dalam struktur kehidupan kita yang fana, maka kita tidak dapat menghindari risiko bahkan ketika kita ingin menghindarinya. Ketidaktahuan dan ketidakpastian tentang hari esok adalah hakikat kita. Semua rencana kita untuk kegiatan-kegiatan esok hari dapat dihancurkan oleh ribuan hal yang tidak terduga entah ketika kita tinggal di rumah di bawah selimut atau melintas di jalan raya. Salah satu sasaran saya adalah menghancurkan mitos tentang keamanan dan dengan suatu cara menyelamatkan Anda dari pesona keamanan. Karena itu  adalah sebuah halusinasi. Hal itu tidak ada. Kemana pun Anda berpaling, ada hal-hal yang tidak terduga dan hal-hal yang di luar kendali Anda.

Kemunafikan yang tragis adalah bahwa pesona keamanan membuat kita mengambil risiko setiap hari untuk diri kita, tetapi melumpuhkan kita untuk mengambil resiko untuk orang lain di jalan kasih Kalvari. Kita tertipu dan berpikir bahwa hal itu mungkin mengacaukan keamanan, yang sesungguhnya bahkan tidak ada. Cara yang saya harap bisa menghancurkan mitos keamanan dan membangunkan Anda dari halusinasi tentang keamanan semata-mata adalah berpaling kepada Alkitab dan menunjukkan bahwa mengambil risiko untuk kepentingan Kristus itu tepat, dan tidak melakukannya berarti menyia-nyiakan hidup Anda.

Referensi:
John Piper dalam Jangan menyia-nyiakan hidup Anda: terjemahan dari "Don't waste your life" oleh Pionir Jaya